Arsip

OPEN MINDEDNESS

OPEN MINDEDNESS(PIKIRAN TERBUKA)
1. Berpikiran Terbuka
Seringkali kita mendengar orang berkata: “berpikirlah terbuka!”, “bukalah pikiran anda!”, atau “kamu harus membuka pikiranmu dan jangan menutup pikiranmu!” Apa itu yang dimaksud dengan berpikir terbuka?
Berpikir terbuka adalah aktivitas otak yang terbuka terhadap berbagai ide, pandangan, argumen, data, teori, dan kesimpulan. Lebih dari itu, berpikir terbuka berarti membuka pikiran terhadap kemungkinan bahwa suatu ide, pandangan, data, teori, dan kesimpulan bisa benar atau salah. Jika seseorang tidak dapat menerima kemungkinan bahwa suatu ide, pandangan, argumen, data, teori, dan kesimpulan salah, maka orang itu dapat dikatakan sebagai orang yang berpikir tertutup.
Oleh karena itu, seorang yang menganggap atau mengklaim diri sebagai orang yang berpikir terbuka seyogianya meneliti, menganalisis, mempertimbangkan, dan menilai berbagai ide, pandangan, argumen, data, teori, dan kesimpulan secara kritis dengan menggunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sebelum menerima dan mempercayai suatu hal sebagai kebenaran. Artinya, seorang yang berpikir terbuka tidak akan menerima dan mempercayai suatu jika suatu ide, pandangan, argumen, data, teori, dan kesimpulan tidak didukung oleh berbagai bukti relevan dan argumen yang didasarkan pada akal sehat. Jadi, seorang yang berpikir terbuka tidak akan serta-merta menerima dan mempercayai suatu ide, pandangan, argumen, data, teori, dan kesimpulan sekalipun hal-hal itu dinyatakan oleh otoritas tertentu dalam masyarakat, entah orangtua, keluarga, orang yang lebih tua, guru/dosen, pemuka ataupun agama/masyarakat.
Jika seseorang menerima dan mempercayai sesuatu tanpa mengujinya terlebih dahulu, maka ia bisa disebut sebagai orang yang tidak kritis. Dan jika seseorang menerima dan mempercayai sesuatu tanpa didukung oleh berbagai bukti relevan dan argumen yang masuk akal, maka orang itu dapat disebut sebagai orang yang mudah percaya. Kedua tipe orang seperti itulah yang cenderung mudah ditipu, dimanipulasi, dieksploitasi, dibodohi, dan disesatkan. Jika seseorang menerima dan mempercayai sesuatu padahal data, bukti, dan kenyataan bertolak belakang dengan apa yang dipercayainya, maka orang tersebut mengalami delusinasi.
Setiap orang memiliki kecenderungan untuk mudah mempercayai otoritas tertentu, opini publik, bahkan dirinya sendiri. Hal ini diperburuk oleh kenyataan bahwa banyak orang dengan salah menggunakan “hak” otoritas yang dimilikinya untuk memperdaya orang lain. Oleh karena itu, seorang ilmuwan bisa saja “jatuh” ke dalam pikirannya yang tertutup karena menganggap diri sudah benar dengan pengetahuan yang mumpuni tanpa melakukan pengujian berulang terhadap ide, pandangan, argumen, dan kesimpulan yang telah dibuatnya.
Demikian juga halnya, seorang yang kritis dan skeptis bisa saja, tanpa disadarinya, memiliki pikiran yang tertutup karena enggan menguji pikiran-pikirannya sendiri. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang dapat serta-merta menganggap dan dianggap sebagai seorang yang berpikir terbuka, apapun itu pekerjaan, kekuasaan, kedudukan, karakter, ataupun label/cap yang selama ini dikenakan pada orang itu jika ia tidak mau menguji pikiran-pikirannya.
Dengan demikian, seorang yang berpikir kritis sepatutnya tiada henti mempertimbangkan dan menguji pikiran-pikirannya terhadap, baik berbagai bukti terkini yang relevan maupun argumen dan pandangan orang lain. Seorang yang berpikir kritis selalu sadar bahwa setidaknya ada dua kemungkinan di dalam dunia ini, yakni sesuatu itu benar atau salah. Sesungguhnya seorang kritis adalah orang yang tidak pernah ragu dan malu serta dengan kerendahan hati rela mengakui jika pikirannya salah kemudian mengoreksi pikirannya yang salah itu seturut bukti yang ada. Dan semua proses ini dilakukan tanpa mengenal kata akhir alias terus dilakukan.

2. Melatih Pikiran Terbuka
Menurut Ikhwan Sopa – Trainer E.D.A.N.
“Berpikiran terbuka, akan membuka pikiran Anda. Jadi, Anda pikirkan saja.”

Berdasarkan materi oleh: WikiHow
Pikiran terbuka, atau open mind, atau open minded, atau being open minded, telah terbukti menjadi salah satu ciri dari karakter orang-orang besar dan sukses. Sikap open minded-lah yang telah menjadikan mereka orang yang besar dan sukses.
Cobalah Anda renungkan gambaran berikut ini.
Orang yang sangat kaya, tidak berbahagia karena kuantitas kekayaannya. Banyak uang bukanlah tentang ‘banyaknya uang’. Satu-satunya perihal kuantitatif yang melekat pada kebahagiaannya, adalah “kuantitas pilihan” sebagai konsekuensi dari kekayaannya.
“Mau beli apa lagi Saya hari ini?” “Siapa lagi yang mau Saya kasih uang?”
“Anak Saya sakit, baiknya masuk ke rumah sakit mana ya?”
Orang yang punya rumah banyak, tidak berbahagia karena kuantitas rumahnya. Kekayaannya terletak pada pilihan.
“Sayangku, weekend kali ini mau nginep di villa kita yang mana?”
Orang yang punya banyak mobil, tidak senang karena kuantitas mobilnya. Ia senang karena kuantitas pilihannya.
“Hari ini Aku mau pake Jaguar merah aja deh. Besok baru Ferrari yang biru.”
Orang yang berkuasa, hanya berbahagia jika ia memahami kuantitas dan kualitas pilihan yang muncul dari kekuasaannya.
“Dengan kuasa yang Saya punya, apa yang bisa Saya lakukan untuk membantu orang banyak?”
Bisakah kini Anda mengerti, betapa kayanya orang yang kaya? Maukah Anda mengetahui, resep apa yang mereka coba? Resep itu adalah berpikiran terbuka.
Menurut definisinya, open minded kurang lebih adalah:“Having or showing receptiveness to new and different ideas or the opinions of others.”
Berpikiran terbuka, akan membuka pikiran Anda. Jadi, Anda pikirkan saja. Berpikiran terbuka akan mencegah pikiran buntu dan mampet. Berpikiran terbuka akan mencegah Anda dari berpikiran sempit. Anda bisa membayangkan, apa jadinya jika Anda selalu saja menolak buah pikir orang lain, menolak ide bawahan, atau bahkan menolak sesuatu yang orang pada umumnya menerima. Berpikiran terbuka akan mengeksplorasi pikiran Anda, sehingga Anda menjadi lebih kreatif, intuitif, dan reseptif. Itu artinya, makin tinggi pula peluang kesuksesan Anda.

Berikut ini tips melatih berpikir terbuka :
1. STIMULASI TELINGA ANDA DENGAN MUSIK BERBEDA
Stimulasilah telinga Anda dengan mendengarkan jenis musik, yang Anda jarang atau belum pernah mendengarnya. Belajarlah untuk mengapresiasinya. Dangdut, Keroncong, Gambang Kromong, Campursari, Classical, New Age, Zouk, Rap, Mariachi, Country, Afro-Blues dan sebagainya. Anda memang tak perlu menyukai atau mencanduinya. Anda hanya mencoba lebih terbuka dan belajar mengapresiasinya. Yang namanya musik, selalu menarik.
2. STIMULASI MATA ANDA DENGAN PANDANGAN BERBEDA
Nikmati memandang hal-hal yang berbeda. Cobalah menikmati berbagai bentuk seni visual. Sering-seringlah memandang segala sesuatu, yang bukan melulu kertas, layar monitor, wajah kolega, bawahan atau atasan, atau bahkan sekedar wallpaper di tembok kantor saja. Tontonlah film horor, jika selama ini Anda menghindarinya. Apapun yang menjadi objek pandangan Anda, sepanjang itu tidak buruk atau menjadikan dosa, sekalipun Anda tidak menyukainya, tetaplah berfungsi dengan sebaik-baiknya, yaitu menstimulasi dan memprovokasi pikiran Anda.
3. STIMULASI LIDAH ANDA DENGAN MAKANAN YANG BERBEDA
Yang penting halal dan enak. Cobalah Kebab Afrika. Nikmati sushi. Tinggal Anda pilih saja.
4. PELAJARI PERBEDAAN TENTANG ORANG DAN GAYA HIDUPNYA
Ingat, pelajari saja. Anda tidak perlu menjadi bagian darinya. Apalagi, jika itu memang tidak sesuai dengan sistem tata nilai Anda. Dengan belajar, wawasan Anda akan menjadi kaya. Pikiran Anda akan terbuka.
5. PELAJARI SESUATU YANG BARU
Basket, golf, terjun payung atau bungee jumping jika perlu. Web design, internet,taichi, aikido. Komunikasi, public speaking.
Dan seterusnya.
6. MILIKI KEMAMPUAN BARU
Berlatih juggling dengan tiga bola? Tidak mungkin? Tetaplah berlatih dengan pikiran terbuka. Anda bisa. Berlatihlah sulap kartu. Pelajari ping-pong. Tulislah puisi, cerpen atau novel.
Dan sebagainya.
7. SAAT BERADA DI ANTRIAN
Lakukan ini:
• Menghitung
• Mengingat
• Memperhatikan
• Membandingkan
Dan sebagainya.
“Buset dah, ini antrian panjang banget. Coba ada berapa orang sih…”
“Pintu exit di sana, tangga darurat di situ, toilet ke arah situ…”
“Ini yang namanya bar code ya? Gimana sih bikinnya… Kok cuman garis-garis tapi bisa di-scan trus keluar informasi sama harganya…”
“Kalo di bioskop yang sono sih, penontonnya tua-tua semua…”
8. IKUTI KELAS DAN EVENT YANG TIDAK UMUM
Ikuti kursus “Shalat Khusuk” Ambil bagian di seminar “Sukses Bermodal Dengkul” Jadilah peserta “Lomba Lari Mundur” Ikut “Power Workshop E.D.A.N.” Aktiflah di “Kelompok Penggemar Jangkrik” Jangan tolak quesioner “Apakah Anda Sudah Gila?” Dan sebagainya.
9. UBAH TEMPAT FAVORIT ANDA
Biasa ke Anyer? Cobalah Pulau Puteri. Suka laut? Pergilah ke gunung.
Suka gunung? Ke laut aja.
Ubah juga rute yang menjadi kebiasaan Anda. Cobalah perjalanan baru. Kemudikanlah sendiri kendaraan Anda, dari Jakarta ke Medan umpamanya.
10. KEMBANGKAN KREATIFITAS ANDA
Kerjakan teka-teki silang dengan berbagai variasinya. Mainkan jangan hanya solitaire, tapi juga spider solitaire. Belajarlah menulis terbalik yang hanya bisa dibaca di depan kaca. Leonardo Da Vinci, melakukannya untuk semua catatannya.
Bongkar PC Anda dan rakit kembali. Lakukan overclok. Montiri kendaraan Anda sendiri.
Pakai pakaian yang Anda geli memakainya.
11. HADAPI KETAKUTAN ANDA
Takut bicara, bicaralah. Takut ketinggian? Naiklah pesawat.
Apapun yang terjadi, ketakutan hanyalah perasaan. Dalam banyak kasus, ia tidak berakibat apa-apa kecuali hanya rasa takut Anda.
12. LATIHAN W.A.I.T
Katakan:
“What Am I Thinking?”
setiap kali Anda bisa melakukannya. Seperti sekarang misalnya?
13. PELAJARI PERSPEKTIF ORANG LAIN
Apa yang penting baginya?
Apa yang disadari dan tidak disadarinya?
Apakah pikirannya sama terbukanya dengan Anda?
Apa sih niat positif di belakang kelakuan orang ini?
Jika Anda selalu melihat gedung A dari sisi kiri jalan, cobalah melihatnya dari sisi kanan jalan, dan rasakan perbedaan persepsi Anda.
Jika Anda sering menonton TV bersama seseorang, matikan TV Anda dan mulailah mengobrol dengannya. Perpanjang waktu mengobrol Anda dan perpendek waktu menonton Anda. Mulailah rasakan bagaimana itu lebih nikmat daripada menonton televisi.
14. TIPS TAMBAHAN
Efisienlah dengan memilih aktivitas yang murah bagi Anda.
Efisienlah dengan waktu latihan Anda.
Jadilah berani. Jangan pernah malu jika itu memang tidak memalukan.
Jangan terdiskriminasi oleh trend atau mode. Pakaian Anda sudah ketinggalan jaman? Tidak, itu modis dan trendy untuk Anda. Sepatu Anda terlalu klasik atau konservatif? Tidak, itu modis dan trendy untuk Anda. Mobil Anda butut? Tidak, itu adalah sedan keluaran ‘84 favorit Anda. Modis, dan trendy.
15. WARNING
Be safe. Jagalah keselamatan diri dan hati Anda. Jagalah keselamatan hubungan Anda dengan siapa saja. Jangan memaksa untuk sesuatu yang terlalu berat untuk Anda. Ingatlah bahwa tujuan memiliki pikiran terbuka, adalah mengembangkan pikiran yang sempit. Jangan sampai, pikiran Anda malah tambah sempit.

KESIMPULAN

Prinsip dasar dari semua latihan ini, adalah mencoba terbuka dan menjadi terbuka. Menemukan hal baru, belajar keahlian baru, belajar cara berpikir yang baru. Lakukanlah dengan kreatif. Lakukanlah dengan impulsif. Lakukan dengan terbuka. Lakukanlah apa yang belum tercantum di dalam daftar ini.
Setiap keputusan yang Anda buat di dalam hidup, didasarkan pada sistem tata nilai dan keyakinan Anda. Untuk menjadikan pikiran Anda lebih terbuka, mulailah dari dasar sistem tata nilai dan keyakinan Anda.
Pikiran terbuka akan menangguk kenyamanan menghadapi berbagai perbedaan. Pikiran terbuka memberi pilihan lensa untuk suatu objek pemotretan. Pikiran terbuka, akan memperkaya pilihan. Itulah yang dapat membuat Anda sukses dan berjaya.
Sahabat saya yang baik hatinya, Pikiran yang terbuka dan hati yang penyayang, akan menaikkan Anda ke ketinggian yang indah, dan menjadikan Anda jiwa kecintaan yang dirindukan kehadirannya.
Maka, peliharalah keterbukaan pikiran Anda kepada ide-ide baru, dan lembutkanlah perlakuan Anda kepada keluarga dan sesama.
Mario Teguh – Loving you all as always

DAFTAR PUSTAKA

Riomantis, Adil. 2010. Arti Open Mind. Cirebon:ITB
Ikhwan Sopa Trainer E.D.A.N.http://milis-bicara.blogspot.com
Andy Milly, (Rabu, 30 Juni 2010). Berita dan Fakta Ilmiah Harian Berpikir Terbuka. FaktaIlmiah.
http://www.faktailmiah.com/2010/06/30/berpikir-terbuka

Iklan

STUDI KASUS

STUDI KASUS

A. Pengertian Studi Kasus
Studi kasus adalah salah satu metode penelitian dalam ilmu sosial. Dalam riset yang menggunakan metode ini, dilakukan pemeriksaan longitudinal yang mendalam terhadap suatu keadaan atau kejadian yang disebut sebagai kasus dengan menggunakan cara-cara yang sistematis dalam melakukan pengamatan, pengumpulan data, analisis informasi, dan pelaporan hasilnya. Sebagai hasilnya, akan diperoleh pemahaman yang mendalam tentang mengapa sesuatu terjadi dan dapat menjadi dasar bagi riset selanjutnya. Studi kasus dapat digunakan untuk menghasilkan dan menguji hipotesis.
Pendapat lain menyatakan bahwa studi kasus adalah suatu strategi riset, penelaahan empiris yang menyelidiki suatu gejala dalam latar kehidupan nyata. Strategi ini dapat menyertakan bukti kuatitatif yang bersandar pada berbagai sumber dan perkembangan sebelumnya dari proposisi teoretis. Studi kasus dapat menggunakan bukti baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Penelitian dengan subjek tunggal memberikan kerangka kerja statistik untuk membuat inferensi dari data studi kasus kuantitatif.
Studi kasus adalah penelitian yang berupaya untuk mengungkapkan berbagai pelajaran yang berharga (best learning practices) yang diperoleh dari pemahaman terhadap kasus yang diteliti (Lincoln dan Guba : 1985 ).
Studi kasus merupakan metode penelitian yang mampu membawa pemahaman tentang isu yang kompleks dan dapat memperkuat pemahaman tentang pengetahuan yang telah diketahui sebelumnya (Doodley, 2005 ).
Studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu (Bogdan dan Bikien : 1982 ).
I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Studi Kasus :
1. Seseorang harus mampu mengajukan pertanyaan yang baik dan mampu untuk menginterpretasikan jawaban-jawaban.
2. Seseorang harus dapat menjadi pendengar yang baik dan tidak terperangkap oleh prakonsepsi sendiri.
3. Seseorang diharapkan mampu menyesuaikan diri dan fleksibel agar situasi yang baru dialami dapat dipandang sebagai kesempatan/ peluang bukan ancaman.
4. Seseorang harus memiliki daya tangkap yang kuat terhadap isu-isu yang akan diteliti, apakah hal ini merupakan orientasi teoritis atau kebijakan.
5. Sesorang harus tidak bias, oleh anggapan-anggapan yang sudah ada sebelumnya, seseorang harus peka dan responsif terhadap bukti-bukti yang kontradiktif.
II. 3 Prinsip pengumpulan data :
1. Menggunakan multi sumber bukti, menggunakan banyak informan dan memperhatikan sumber-sumber bukti lainnya.
2. Menciptakan data dasar studi kasus, mengorganisir dan mengkoordinasikan data yang telah terkumpul, biasanya studi kasus memakan waktu yang cukup lama dan data yang diperolehnya pun cukup banyak sehingga perlu dilakukan pengorganisasian data agar data yang terkumpul tidak hilang saat dibutuhkan nanti.
3. Memelihara rangkaian bukti, tujuannya agar bisa ditelusuri dari bukti-bukti yang ada, berkenaan dengan studi kasus yang sedang dijalankan. Penting ketika menelusuri kekurangan data lapangan.

B. Macam – Macam Studi Kasus
1. Studi kasus observasi, mengutamakan teknik pengumpulan datanya melalul observasi peran-serta atau pelibatan (participant observation), sedangkan fokus studinya pada suatu organisasi tertentu.. Bagian-bagian organisasi yang menjadi fokus studinya antara lain: (a) suatu tempat tertentu di dalam sekolah; (b) satu kelompok siswa; (c) kegiatan sekolah.
2. Studi kasus sejarah hidup, yang mencoba mewawancarai satu onang dengan maksud mengumpulkan narasi orang pertama dengan kepemilikan sejarah yang khas. Wawancara sejarah hiclup biasanya mengungkap konsep karier, pengabdian hidup seseorang, dan lahir hingga sekarang. masa remaja, sekolah. topik persahabatan dan topik tertentu lainnya.
3. Studi kasus kemasyarakatan, merupakan studi tentang kasus kemasyarakatan (community study) yang dipusatkan pada suatu lingkungan tetangga atau masyarakat sekitar (kornunitas), bukannya pada satu organisasi tertentu bagaimana studi kasus organisasi dan studi kasus observasi.
4. Studi kasus analisis situasi, jenis studi kasus ini mencoba menganalisis situasi terhadap peristiwa atau kejadian tertentu. Misalnya terjadinya pengeluaran siswa pada sekolah tertentu, maka haruslah dipelajari dari sudut pandang semua pihak yang terkait, mulai dari siswa itu sendiri, teman-temannya, orang tuanya, kepala sekolah, guru dan mungkin tokoh kunci lainnya.
5. Mikroethnografi, merupakan jenis studi kasus yang dilakukan pada unit organisasi yang sangat kecil, seperti suatu bagian sebuah ruang kelas atau suatu kegiatan organisasi yang sangat spesifik pada anak-anak yang sedang belajar menggambar.

C. Langkah – Langkah Penelitian Studi Kasus
1. Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara bertujuan(purposive) dan bukan secara rambang. Kasus dapat dipilih oleh peneliti denganmenjadikan objek orang, lingkungan, program, proses, dan masvarakat atau unit sosial. Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus haruslah masuk akal, sehinggadapat diselesaikan dengan batas waktu dan sumber-sumber yang tersedia.
2. Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalarn pengumpulan data, tetapi yang lebih dipakai dalarn penelitian kasus adalah observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi. Peneliti sebagai instrurnen penelitian, dapat menyesuaikan cara pengumpulan data dengan masalah dan lingkungan penelitian, serta dapat mengumpulkan data yang berbeda secara serentak.
3. Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai mengagregasi, mengorganisasi, dan mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang dapat dikelola. Agregasi merupakan proses mengabstraksi hal-hal khusus menjadi hal-hal umum guna menemukan pola umum data. Data dapat diorganisasi secara kronologis, kategori atau dimasukkan ke dalam tipologi. Analisis data dilakukan sejak peneliti di lapangan, sewaktu pengumpulan data dan setelah semua data terkumpul atau setelah selesai dan lapangan.
4. Perbaikan (refinement): meskipun semua data telah terkumpul, dalam pendekatan studi kasus hendaknya Dilakukan penyempurnaan atau penguatan (reinforcement) data baru terhadap kategori yang telah ditemukan. Pengumpulan data baru mengharuskan peneliti untuk kembali ke lapangan dan barangkali harus membuat kategori baru, data baru tidak bisa dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah ada.
5. Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif, rnudah dibaca, dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas, sehingga mempermudahkan pembaca untuk memahami seluruh informasi penting. Laporan diharapkan dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus kehidupan seseorang atau kelompok.

D. Ciri – Ciri Studi Kasus yang Baik
1. Menyangkut sesuatu yang luar biasa, yang berkaitan dengan kepentingan umum atau bahkan dengan kepentingan nasional.
2. Batas-batasnya dapat ditentukan dengan jelas, kelengkapan ini juga ditunjukkan oleh kedalaman dan keluasan data yang digali peneliti, dan kasusnya mampu diselesaikan oleh penelitinya dengan balk dan tepat meskipun dihadang oleh berbagai keterbatasan.
3. Mampu mengantisipasi berbagai alternatif jawaban dan sudut pandang yang berbeda-beda.
4. Studi kasus mampu menunjukkan bukti-bukti yang paling penting saja,baik yang mendukung pandangan peneliti maupun yang tidak mendasarkan pninsip selektifitas.
5. Hasilnya ditulis dengan gaya yang menarik sehingga mampu terkomunikasi pada pembaca.

E. Tujuan Penulisan Studi Kasus
1. Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang suatu keadaan yang dianggap mempunyai masalah.
2. Untuk mengetahui penyebab – penyebab dan menerapkan jenis dan sifat serta latar belakang timbulnya masalah.
3. Untuk memberi bekal pengalaman kepada seseorang khususnya calon guru agar lebih peka Terhadap permasalahan yang dihadapi siswa dan mampu memecahkannya.
4. Memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi siswa yang mempunyai masalah.
5. Membantu siswa menyesuaia kan diri dengan lingkungan dan memecahkan masalah serta mengembangkan potensi belajar siswa secara optimal.

F. Kelemahan dan Kelebihan Studi Kasus
a. Kelebihan Studi Kasus
1. Studi kasus mampu mengungkapkan hal-hal yang spesifik,unik dan hal-hal yang amat mendetail yang tidak dapat diungkap oleh studi yang lain. Studi kasus mampu mengungkap makna di balik fenomena dalam kondisi apa adanya atau natural.
2. Studi kasus tidak sekedar memberi laporan faktual,tetapi juga memberi nuansa,suasana kebatinan dan pikiran-pikiran yang berkembang dalam kasus yang menjadi bahan studi yang tidak dapat ditangkap oleh penelitian kuantitatif yang sangat ketat.
b. Kelemahan Studi Kasus
1. Dari kacamata penelitian kualitatif,studi kasus di persoalkan dari segi validitas,reliabilitas dan generalilsasi. Namun studi kasus yang sifatnya unik dan kualitatif tidak dapat diukur dengan parameter yang digunakan dalam penelitian kuantitatif,yang bertujuan untuk mencari generalisasi.

G. Manfaat Studi Kasus
1. Manfaat studi kasus dalam layanan bimbingan siswa disekolah adalah merupakan suatu upaya dalam membantu siswa yang bermasalah supaya dapat memahami kemampuan dirinya dan lingkungan dalam usaha untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Selain itu juga, dapat berguna untuk siswa agar mengetahui keadaan diri sendiri dan bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
2. Memberikan pengertian bahwa semua permasalahan itu pasti ada hikmahnya dan agar berusaha bersabar dalam menjalani hidupnya dan jangan lupa selalu berdo’a kepada tuhan yang maha kuasa.