BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

ADAB TERHADAP KEDUA ORANG TUA

“ Berbakti kepada kedua orang tua itu hukumnya wajib, bukan karena kebaikan mereka tapi karena Perintah Allah, sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allah. Artinya bukan hanya kalo orang tua kita baik terhadap kita barulah kita wajib berbakti ( Jika hanya karena kebaikan mereka ini namanya hubungan sebab akibat : siapa berbuat baik maka dibalas dengan kebaikan pula ) , akan tetapi walaupun mereka kita pandang dzalim kepada kita baik yang mungkin dibuang ketika kecil, atau diperlakukan tidak adil disbanding saudara yang lain karena kekuranganya ataupun perlakuan buruk lainya, , tetap wajib bagi seorang muslim, berbakti kepada kedua orang tua. Selama bentuk bakti itu tidak bertentangan dengan syari’at/ memaksiati Allah.

Catatan penting : Adab cium tangan sama sekali bukan bentuk berbakti kepad orang tua yang dicontohkan dalam Islam, karena Para sahabat tidak diragukan lagi bagaimana mereka berbakti kepada orang tuanya, begitu juga Istri Rasul ‘Aisyah rhadiallohu’anha yang merupakan putrid dari shabat yang paling Rasulullah cintai “Abu Bakar rhadiallohu ‘anhu”, demikian juga Hafsah istri Rasul putri dari Sahabat Umar bin Khatab rhadiallohu’anhu, mereka semua tidak diragukan lagi baktinya kepada orang tua, namun tidak ada satu riwayatpun yang shahih yang menerangkan bahwa mereka cium tangan baik kepada orangtua, kepada suami . atau sahabat Rasulullah sendiri juga tidak ada riwayat yang shahih yang menerangkan bahwa mereka cium tangan baik kepada orang tua maupun bahkan kepada Rasulullah. Yang ada justru riwayat yang menerangkan bahwa Rasulullah melarang mereka berdiri dalam menyambut Rasulullah sebagai bentuk penghormatan kepada Beliau, jika berdirinya mereka saja dilarang apatah lagi dengan cium tangan.

”Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat kelak. Aku adalah orang yang muncul (dibangkitkan) lebih dahulu dari kuburan, paling dahulu memberi syafa’at, paling dahulu dibenarkan memberi syafa’at” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2278].
Akan tetapi, dengan segala kemuliaan beliau di mata kita, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah ridlaa jika ada shahabatnya berdiri menghormati beliau. Beliau shallallaahu ’alaihi wa sallam memberikan peringatan :
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَمْثُلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
”Barangsiapa yang suka dihormati manusia dengan cara berdiri, hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adab no. 977, Abu Dawud no. 5226; dan lain-lain – shahih].
Anas bin Malik pun melaporkan bagaimana keadaan para shahabat berkaitan dengannya :
لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ
”Tidak ada seorangpun yang lebih dicintai oleh para shahabat daripada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Akan tetapi, bila mereka melihat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam (hadir), mereka tidak berdiri untuk beliau, sebab mereka mengetahui bahwa beliau membenci hal tersebut” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2754; shahih].

Namun ada ulama yang mengatakan bolehnya cium tangan asal tidak berlebihan apalagi sampai sungkeman ASAL dia tidak meyakini bahwa perbuatan itu dicontohkan/disunnahkan oleh syari’at Islam, melainkan hanya sebagai adat saja. Namun ada yang berpendapat mutlak “hindarilah” karena ditakutkan masuk dalam kategori “Ghuluw” /berlebihan. Yang mana ghuluw jelas haram hukumnya dan namanya “memaksiati Allah”

1. Adab Terhadap Orang Tua
Seorang muslim beriman terhadap hak hak orang tua atas dirinya dan kewajiban berbuat baik kepada keduanya, mematuhi dan memuliakan mereka, bukan hanya karena keduanya menjadi sebab keberadaannya, atau karena keduanya telah memberikan kebaikan dan rizki yang wajib baginya membalasnya dengan yang serupa, melainkan karena Allah telah mewajibkan untuk mematuhi keduanya, dan mewajibkan kepada anak untuk berbuat baik kepada keduanya serta memuliakanya, sampai sampai Allah menggabungkan perintah itu dengan kewajiban beribadah hanya kepada Nya, bukan kepada selain nya.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” ( Al Israa’ 23 dan 24)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” ( Surat Al Lukman 14)

Sedangkan Rasulullah sendiri pernah bersabda kepada seorang laki laki, yang bertanya kepada Beliau, “ Siapakah orang yang lebih berhak untu aku pergauli dengan baik?” Beliau menjawab : “ Ibumu” Orang itu bertanya lagi, “lalu siapa?” Beliau menjawab “Ibumu”, Orang itu bertanya lagi “ lalu siapa” Beliau menjawab “Ibumu” Orang itu bertanya lagi “lalu siapa Beliau menjawab “Bapakmu” ( HR. Bhukari dan Muslim bab Berbakti :4)

beliau shalallohu ‘alaihiwassalam bersabda :

“ Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada ibu ibu, mencegah dan meminta, mengubur bayi perempuan hidup hidup, Allah juga membenci untuk kalian gossip, serta banyak bertanya, dan membuang buang harta. ( HR. Bhukari bab kasih sayang dan Muslim bab hukum hukum 11, 14)

“ Maukah kalian aku kabarkan tentang dosa yang paling besar?”, Para Sahabat menjawab, “ Tentu, Wahai Rasulullah,” Beliau bersabda : “ ( yaitu) Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua,” saat itu beliau sedang bersandar kemudian Beliau duduk dan bersabda, “ Ingatlah! Serta perkataan dusta dan persaksian palsu, Ingatlah ! Perkataan dusta dan persaksian palsu.” Beliau masih terus mengatakanya hingga Abu Bakrah berkata, “ Aku berkata,’Seandainya beliau diam ( berhenti). HR. Al Bhukari bab Adab : 6 dan Muslim bab Iman : 143)

“Tidaklah seorang anak dapat membalas kebaikan bapaknya kecuali jika mendapatinya menjadi seorang budak, kemudia ia membeli dan memerdekakannya.” ( HR. Muslim Bab memerdekakan Budak no 25 dan Abu Daud Bab Adab 120)

Abdullah bin Mas’ud Radhiallohu’anhu berkata : “ Aku bertanya kepada Nabi shalallohu’alaihiwassalam “ Amalan apa yang paling dicintai oleh Allah subkhanahu wata’ala?” Beliau menjawab “ Berbakti kepada orang tua, “ Aku bertanya lagi, “lalu apa lagi ?” “ Beliau menjawab, “ Jihad di Jalan Allah.” Kemudian datang salah seorang laki laki kepada Beliau meminta izin untuk ikut berperang, lalu beliau bertanya, “ Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Orang itu menjawab “ Ya”. Beliau bersabda, “ Klau begitu, mintalah izin kepada keduanya, kemudian berjihadlah”

Datang seorang laki laki dari golongan Anshar dan bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah masih ada perbuatan bakti yang HARUS AKU PERBUAT KEPADA ORANG TUAKU SETELAH MENINGGAL?”

Belia shalallohu’alaihiwassalam menjawab :
“ Ya, ada EMPAT perkara : MENSHALATINYA DAN MEMOHON AMPUN KEPADA ALLAH UNTUK MEREKA, MELAKSANAKAN JANJI MEREKA, MEMULIAKAN TEMAN TEMAN MEREKA, DAN MENYAMBUNG TALI KEKELUARGAAN YANG KAMU TIDAK MEMILIKI PERTALIAN KECUALI DARI ADANYA PERTALIAN ITU, itu perbuatan bakti kepada mereka yang tersisa bagimu untuk kamu lakukan setelah mereka meninggal.” ( HR. Ibnu Mjah Bab Adab : 2 dan Ahmad 3/498)

Dan Nabi shalallohu’alaiwassalam bersabda :

“ Sesungguhnya, cara berbakti kepada kedua orang tua yang paling baik, yaitu seseorang menyambung hubungan dengan orang yang dicintai bapaknya setelah meninggal.” ( HR. Muslim bab berbakti : 12 dan At Tirmidzi bab berbakti : 5 dan Ibnu Majah bab Jenazah : 48)

seorang Muslim mengakui hak hak orang tuanya, melaksanakanya dengan sempurna sebagai bentuk ketaatan dia kepada Allah subkhanahu wata’ala dan sebagai bentuk pelaksanaan perintah – Nya,

maka karena perintah Allah itu seorang muslim wajib mematuhi semua perintah atau larangan keduanya selama tidak mengandung maksiat kepada Allah atau bertentangan dengan syari’at-Nya. Karena tidak ada ketaatan kepada Makhluk untuk bermaksiat kepada Allah, dank arena Allah telah berfirman :
“ Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik . . ( Luqman 15)

Juga sabda Rosulullah

“ Tidak ada ketaatan kepada Makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq ( Allah)

Juga hadits tentang cerita seorang sahabat yang diminta oleh Ibunya yang sedang sakit parah untuk meninggalkan Islam, dengan ancaman Ibunya akan bunuh diri jika tidak dituruti maka jawab sahabat itu : Seandainya Ibunya punya 7 Nyawa dan bunuh diri sebaanyak 7 kali tetap saja dia tidak akan akan menurutinya, , namun dia akan tetap berbakti dan berbuat baik dalam urusan dunia, dia tetap menyuapi makanan pada ibunya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s