KEMAMPUAN BERBAHASA MENETUKAN KECERDASAN

KEMAMPUAN BERBAHASA MENETUKAN KECERDASAN

Oleh: Yulianingsih

Memang pertumbuhan kecerdasan anak bisa dilihat dari kemampuan berbahasanya. Jika perkembangan bahasanya baik, biasanya intelektualnya pun akan baik. Sebaliknya, jika lambat maka intelektualnya pun akan lambat. Walaupun ada factor lain yang juga perlu diperhatikan yaitu perkembangan motorik kasar, halus, dan perkembangan social. “Tetapi yang paling menentukan bagus tidaknya perkembangan intelektual adalah normalnya perkembangan bahasa dan visual motor, jelas dr. Widodo Judarwanto, Spa. Jika terjadi gangguan yang menyebabkan anak terlambat perkembangan bahasanya maka orang tua perlu mendeteksi sejak dini. Sebab jika terlambat akan mengakibatkan gangguan yang lebih berat. Untuk itu kita perlu mengetahui, diusia berapa anak mulai bisa bergumam, meespon, mengucapkan kata dan seterusnya. Di usia 0 sampai 2 minggu biasanya anak akan mengeluarkan bunyi gumaman misalnya “ammm” . usia 2 bulan vokalnya bertambah satu misalnya “auuu”. Usia 3 bulan mulai bisa merespon bunyi. Mendekati 4 bulan bertambah lagi vocal dan konsonan misalnya “aguuuu”. Usia 4-6 bulan bahasa bisa dilihat dengan teriakan dan bunyi mengoceh. Kemudian kata pertama yang harus timbul dari anak sekitar usia 7-8 bulan mislanya da-da-da. 9-12 bulan  dia mulai mengerti kata yang diucapkannya, semisal dia memanggil mama atau papanya. 15 bulan, harus sudah bisa 4-5 kata dan di usia 2 tahun, dia harus mempunyai 20-50 perbendaharaan kata. Bila kenyataannya kemampuan anak bertolak belakang dengan usianya maka perlu diwaspadai. Apalagi bila sampai umur 10 minggu atau 2,5 bulan tersenyum saja bayi tidak bisa, itu sudah menunjukkan keterlambatan yang cukup berat. Sebab tersenyum adalah awal reaksi dari terhadap lingkungan disekitarnya. Bila usia tersebut responnya belum muncul sangat mungkin berpengaruh pada intelektualnya dan berlanjut pada keterlambatan bicara. Penyebab keterlambatan berbahasa sangat beragam, yang sering terjadi adalah retardasi mental, gangguan pendengaran, stimulus yang kurang dan gangguan saat dikandungan. Sebenarnya stimulasi bisa dilakukan orang tua untuk menghindari keterlambatan bicara dan berbahasa. Stimulasi ini bisa dilakukan sejak janin, misalnya musik atau dengan sentuhan. Setelah lahir, bisa dengan kontak mata, sentuhan dan latihan-latihan. Selain itu karena kemampuan bahasa sangat berhubungan dengan otak tentunya nutrisi pun perlu diperhatikan.

sumber: T.R, Sekar. 2010. Jadikan Otakmu Setajam Pedang. Yogyakarta: Siklus

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s