CERPEN ANAK-ANAK

KEBAIKAN AKAN MELULUHKAN KESOMBONGAN

Oleh: Yulianingsih

Anak-anak kelas 3B sedang pelajaran Matematika, ibu Nani guru mereka baru saja membagikan hasil ulangan Matematika. Ada salah seorang murid yang mendapat nilai 100 yaitu Lina. Ia sangat bangga dengan hasil ulangan tersebut dan langsung memamerkan kertas ulangannya kepada teman-temannya, sedangkan Nania hanya mendapat nilai 50. Dengan sengaja Lina mengejek dan mengolok-olok Nania “Eh nilaimu sangat jelek sekali Nania” katanya sambil menyengir. Nania pun bersikap biasa saja, Lina langsung bergegas pulang karena telah dijemput oleh supir keluarganya. Pada saat itu Nania pun hanya bisa meratapi nilainya yang kurang baik tetapi Via teman sebangkunya selalu berusaha memotivasi Nania agar lebih semangat lagi dalam belajar. “Nania jangan berputus asa ya? Barusaha belajar lagi “ ujarnya sambil tersenyum. Nania pun mengangguk dan tersenyum manis pula.

Keesokan harinya pada saat Lina sampai di sekolah Nania menyambutnya dengan senyuman ramah “Hai Lina?” kata Nania namun  Lina tidak sedikit pun menoleh kepada Nania bahkan Lina menggerutu “Dasar anak yang sok akrab” Lina langsung masuk namun Nania tetap bersikap ramah padanya. Via mengatakan “Aduh Nania kenapa kamu tetap bersikap ramah sih pada orang sombong itu” lalu Nania menjawab “walaupun orang sombong pada kita tetapi kita tidak bolah membalasnya dengan kesombongan juga” sahutnya dengan senyu,an manis.

Bel telah berbunyi menandakan pelajaran kan dimulai, ibu Nani guru matematika kelas 3B langsung masuk ke kelas untuk mengajar. “Anak-anak minggu kemarin ibu memberikan tugas rumah bukan? Sekarang kita akan bahas bersama-sama”, kata ibu Nani. Setelah itu Nania dipanggil oleh ibu Nani untuk mengerjakan tugas tersebut di depan kelas. Lalu ibu Nani mengoreksi jawaban Nania, ternyata jawaban Nania keliru dan langsung dibetulkan oleh ibu Nani. “Nania kenapa jawaban kamu bisa salah”, tanya ibu Nani. “Saya kurang paham dengan materi ini bu”, jawab Nania. Lalu ibu Nani menyuruh Nania untuk duduk di tempatnya, wajah Nania sangat muram. Via pun menghiburnya, “sudah jangan sedih ya karena salah mengerjakan soal nanti kita bisa belajar barsama-sama”, kata Via. “Terima kasih ya Via”, sahut Nania, setelah itu ibu Nani memberitahukan bahwa besok akan diadakan ulangan lagi dan murid-murid disuruh belajar di rumah. Saat istirahat tiba, para siswa berhamburan keluar kelas. Pada saat Lina keluar kelas Nania memanggilnya, ternyata Nania mengajak Lina untuk belajar bersama namun Lina menolaknya serta menggeruttu “aku gak mau belajar bareng sama kamu”, tegas Lina dan langsung menionggalkan Nania.

Setelah pulang sekolah Nania dan Via belajar kelompok bersama di rumah Via tentang pelajaran yang telah dibahas di sekolah. Sedikit demi sedikit Nania dapat menguasai materi tersebut. Setelah selesai belajar nania langsung membantu orang tuanya menjaga toko. Seperti itulah kegiatan Nania sehari-hari selalu membantu ibunya berdagang, berbeda dengan Lina karena ua adalah anak orang kayabdan berkecukupan.

Pada keesokan harinya tibalah saatnya untuk melaksanakan ulangan. “Nania gimana sudah paham belum materi yang untuk ulangan”, tanya Via. Nania tersenyum simpul “aku sudah paham Via, terima kasih ya, sudah mangajari aku”, jawab Nania. Sebaliknya Lina dengan kesombongannya, karena dia sudah merasa pandai maka dia tidak belajar sama sekali. Pada saat ulangan Nania mengerjakan dengan sungguh-sungguh sehingga ia dapat menyelesaikan ulangan tersebut, sedangkan Nania sangat kesulitan dalam mengerjakan ulangan tersebut. Setelah selesai ulangan ibu Nania langsung mengoreksi hasil ulangan tersebut. Tak pernah diduga Nania mendapat nilai tertinggi di kelasnya karena usaha belajarnya yang maksimal sehingga ia memperoleh hasil yang maksimal. Lina cemberut “Huh sebel, aku gak bisa kayak gini masa aku hanya mendapat nilai 50,, ibuku pasti marah nanti”, kesal Lina. “Pasti Nania curang dalam mengerjakan ulangan”, sambung Lina. “Huss, jangan tuduh orang seperti itu”, kata salah seorang temannya. “Mungkin Nania selalu berusaha keras dalam belajar sehingga ia mendapat nilai tertinggi di kelas”, sambungnya. Nania merenung sejenak, dia sadar bahwa dia kemarin tidak belajar sehingga nilainya tidak maksimal tetapi ia masih kesal dengan Nania yang mengalahkannya.

Lonceng berbunyi, murid-murid pun bergegas pulang. “Selamat ya Nania, kamu mendapat nila 100 aku yakin kamu pasti bisa mendapat nilai tertinggi kalau mau belajar sungguh-sungguh”, ujar Via. “Terima kasih ya Via ini juga berkat kamu yang sudah membantu aku”, kata Nania. “Iya, sama-sama mari pulang”, jawab Via. Di halaman sekolah Nania melihat Lina berdiri sendiri sedang menunggu jemputannya. “Hai Lina, kita pulang bareng aja yuk?” sapa Nania. Lina mencibir, “Gak mau, jangan sok akrab deh sama aku”. Lina langsung bergegas meninggalkan tempat itu sambil menggerutu, “Huh, nyebelin banget sih tuh anak”, tiba-tiba Lina menabrak pintu gerbang karena tidak memperhatikan jalan, “Aduh, sakit”, keluh Lina. “Ya ampun Lina jatuh, mari kita tolong”, kata Nania. “Kamu tidak apa-apa Lina? tanya Nania, “sakit Nania”, jawab lina. “Mari aku bantu”, jelas Nania. Pada saat itu Lina sadar dan meras bersalah kepada Nania karena sudah besikap sombong dan sering memusuhinya. Lina pun meminta maaf kepada Nania atas sikap dan perbuatannya selama ini. “Terima kasih ya? Nania kamu selalu baik sama aku walaupun aku sering jahat sama kamu, Nania maafkan aku karena selama ini aku sudah sombomg sama kamu”, Lina tertunduk malu. “Iya gak apa-apa kok Lina, kita kan harus saling memaafkan”, jawab Nania sambil tersenyum. Akhirnya mereka pulang bersama-sama, “Oya aku harus ke toko mau bantuin ibu berdagang, kasihan ibu kalau jaga toko sendirian ibu sering kecapean”, jelas Nania. “Oh, jadi kamu juga bantuin ibu berdagang?”, tanya Lina. nania tersenyum simpul, “Iya, makanya waktu belajarku menjadi berkurang tetapi sekarang aku lebih semangat dalam belajar sehingga nilaiku menjadi lebih baik”, sahut Nania. Wah aku kagum sama kamu Nania, kamu bisa berprestasi di sekolah sambil tetap membantu orang tua berdaganga”, kata Lina. Saat itu juga Lina berjanji tidak akan sombong karena sangat tersentuh oleh kebaikan dan keramahan Nania. Mereka pun menjadi sahabat karib yang sangat akrab dan selalu berusaha keras dalam belajar agar dapat mencapai prestasi.

SELESAI…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s