AJI MLATI KARYA MOTINGGO BOESJE

ANALISIS NOVEL MANUSIA HARIMAU KARYA MOTINGGO BOESJE

Disusun oleh: YULIANINGSIH

UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Biografi Motinggo Boesje

Lahir di Kupang Kota, Lampung 21 November 1937. Motinggo lahir dari pasangan Djalid Sutan Alam dan Rabi’ah Jakub yang berasal dari Minangkabau. Ibunya berasal dari Matur Agam dan ayahnya dari Sincin, padang Pariaman. Setelah menikah mereka berdua pergi merantau ke Bandar Lampung. Disana ayahnya bekerja sebagai klerk KPM di Kupang Kota, sedangkan ibunya mengajar agama dan Bahasa Arab. Bustami Djalid itulah nama aslinya yang diberikan ayahnya dan ibunya kepada Motinggo boesje, nama asli pemberian ayah dan ibunya dengan jelas melantukan idealisme yang tinggi dan religius. Nama Bustami diambil dari nama seorang filsuf muslim pada masa kejayaan Granada Andalusia, ketika ibunya mengandung, ia sempat mengagumi filsuf sufi. Tak heran pada saat melahirkan nama bustami dipakai pada anaknya sendiri. Seiring dengan perkembangan zaman, Motinggo Boesje tumbuh dan hidup di lingkungan keluarga yang patuh pada ajaran agama islam. Ketika usianya mendekati 12 tahun, kedua orang tuanya meninggal dunia. Sepeninggal orang tuanya, Motinggo diasuh neneknya di Bukit tinggi hingga ia menamatkan SMA disana dan melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum UGM jurusan Tata Negara. Namun tidak sampai tamat karena kecintaannya pada dunia seni lebih besar telah mengurangi seluruh perhatiannya.

Bakat Motinggo Boesje sudah kelihatan ketika beliau beranjak remaja. Berbagai kegiatan seni ditekuninya, seperti mengisi siaran sandiwara radio di RRI Bukit Tinggi, bermain drama, menjadi sutradara, melukis, menulis puisi, cerpen, novel dan essai. Motinggo Boesje tergolong produktif dengan bentuk-bentuk karya prosanya. Beliau pernah menjadi redaktur Kepela Penerbitan Nusantara (1961-1964) dan ketua II Koperasi Seniman Indonesia. Pada tahun 1970-an Motinggo menyutradarai beberapa film. Dramanya, Malam Jahanam (1958), mendapat hadiah pertama Sayembara Penulisan Drama Bagian Kesenian Departemen P & K tahun 1958 dan cerpennya, Nasehat buat Anakku, mendapat hadiah majalah Sastra tahun 1962. Karya-karya Motinggo Boesje menunjukkan perjalanan seni sekaligus perjalanan hidupnya. Dalam karya-karyanya, Motinggo Boesje merepresentasikan permasalahan dasar kehidupan manusia. Masalah dasar kehidupan itu menjadi menarik karena disampaikan dengan gaya khas Motinggo Boesje. Seniman besar ini tutup usia di Jakarta, 18 Juni 1999.

Latar belakang penciptaan novel Manusia Harimau

Judul novel Manusia Harimau diangkat karena berlatar dari sebuah kampung yang bernama desa Kumayan Jati di pedalaman Sumatra selatan. Kisah ini menceritakan sepak terjang sejumlah keturunan manusia harimau yang berkumpul di desa itu dengan segala intrik dan pertarungan. Kisah Manusia Harimau dan tema lain yang berkaitan dengan dunia gaib adalah bentuk kisah fantasi dewasa yang hidup dan berkembang di Indonesia. Motinggo Boesje meneruskan bentuk-bentuk prosa lama berupa legenda dan bentuk-bentuk sastra lisan lainnya serta sastra tulis kuno. Soal manusia harimau, jin dan makhluk gaib lainnya di gambarkan hidup membaur dengan manusia. Kisah-kisah para gaib dalam novel-novel Indonesia biasanya berpegang pada semacam prinsip bahwa para makhluk gaib itu tak akan mengganggu atau mencampuri urusan manusia bila tidak diundang atau diganggu oleh manusia sendiri. Yang biasanya mengganggu atau mengundang mereka diperankan seorang dukun atau ahli silat yang berkemampuan berhubungan dengan dunia gaib. Bagi masyarakat tradisional di nusantara, kisah-kisah gaib ini terpelihara dan menyatu dengan adat istiadat dan kepercayaan setempat. Kepercayaan mistis masyarakat nusantara itu akan menyatukan manusia dengan dunia gaib. Mungkin inilah yang menyebabkan novel-novel yang bertema semacam ini populer dan tergolong laris.

Sejarah terciptanya novel Manusia Harimau karya Motinggo Boesje

Tema manusia harimau sebelumnya diangkat Motinggo Boesje dalam serial Tujuh Manusia Harimau yang diterbitkan pada tahun 1980-an. Maka Motinggo Boesje menulis novel Manusia Harimau dan pernah diangkat ke layar lebar dengan bintang El Manik pada tahun 1987 kemudian menjadi serial sinetron.

Waktu novel Manusia Harimau diciptakan

Karya sastra tersebut di ciptakan pada tahun 1987 yang diterbitkan oleh Lokajaya di Jakarta.

Unsur-unsur instrinsik novel Manusia Harimau

   1.        Tema

Tema merupakan pokok permasalahan yang terkandung dalam karangan tersebut. Tema dari novel ini adalah ada seorang pendekar gadis cilik yang bernama Aji Mlati yang mahir dalam memainkan pedang Tien-Yuan yang dipelajari dari kitab Chen Kao. Novel ini menggambarkan kegigihan seorang gadis dalam mempelajari ilmu pedang Tien-Yuan dan mengangkat sebuah kisah seorang gadis yang kuat. Cerita ini merupakan cerita rakyat yang memiliki nilai-nilai moral.

   2.        Penokohan dan perwatakan

Tokoh adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan yang dilakukan dalam tindakan. Tokoh yang terdapat dalam novel Manusia Harimau antara lain, Aji Mlati, Ki Ca Hya, Pungguh Tolol, Pita Loka, Ki Surya Pinanti, Enam Pendekar, Jin Buyung Gombak, seratus Iblis Pendekar, Pendekar Si Tonjang, Pendekar Jangkung, Ki Harwati, Rai Tamsil, Pak Bokoh, Ki Putih Kelabu, Ki Tunggal Surya Milih dan Ki Tunggal pengkar, Nolang, Suhu Elang. Sedangkan penokohan atau perwatakan adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh atau menggambarkan watak pelaku dalam ceritanya. Berikut ini adalah watak dari tokoh-tokoh dalam novel Manusia Harimau antara lain:

  1. Aji Mlati mempunyai watak baik hati, suka menolong, selalu berlatih keras dalam mempelajari ilmu.
  2. Pungguh Tolol mempunyai sifat pandai tetapi berpura-pura bodoh, rendah hati karena tidak pernah memamerkan ilmunya walaupun ia mempunyai ilmu yang hebat.
  3. Ki Ca Hya mempunyai sifat baik hati yang telah mengajarkan dan mewariskan ilmu pedang Tien-Yuan kepada Aji Mlati untuk melakukan kebajikan.
  4. Pita loka mempunyai sifat yang baik karena ia telah merawat Aji Mlati saat ayah dan ibunya meninggal karena dibunuh oleh Ki Rotan.
  5. Ki Rotan mempunyai sifat jahat karena telah membunuh ayah, ibu dan nenek Aji Mlati.
  6. Enam pendekar anak buah Ki Ca Hya, pendekar pertama mempunyai sifat sabar, patuh terhadap gurunya, berbeda dengan pendekar lainnya termasuk pendekar kelima yang tidak bisa menahan godaan setan dan cepat emosi, dan ia juga sering membangkang perintah gurunya.
  7. Jin Buyung Gombak adalah jin cina yang jahat dan dapat melakukan apa saja. Dia diperintah oleh pendekar ke-33 untuk membaca aksara yang ada di pedang Tien-Yuan milik Aji Melati yang berisi amanat atau keterangan tentang kesaktian pedang itu.
  8. Seratus iblis pendekar memiliki sifat jahat karena ingin merebut pedang Tien-Yuan dari aji Mlati untuk melakukan kejahatan.
  9. Pendekar Si Tonjang memiliki sifat jahat karena ia menggunakan ilmu hitam, ia telah menyemburkan gelombang api dari mulutnya sehingga baju si Pungguh terbakar pada saat perang.
  10. Pendekar Jangkung memiliki sifat jahat, dia termasuk seratus iblis pendekar.
  11. Ki Harwati merupakan salah satu tujuh pendekar harimau, ia memiliki sifat yang jahat, ia pernah dirasuki oleh iblis dan disuruh merebut pedang Tien-Yuan dari Aji Mlati lalu membunuhnya dan semua kawan-kawannya termasuk Pungguh dan lima pendekar utama.
  12. Rai Tamsil merupakan orang awan yaitu penduduk desa lilep.
  13. Pak Bokoh mempunyai watak yang baik, beliau adalah penduduk desa Lilep dan sebagai pemilik warung di desa itu.
  14. Ki Putih kelabu mempunyai sifat baik, beliau adalah ayah dari Pita Loka.
  15. Ki Tunggal Surya Milih dan Ki Tunggal pengkar memiliki sifat jahat dan sombong.
  16. Nolang adalah pembantu setia suhu elang memiliki sifat sabar.
  17. Suhu Elang memiliki sifat pendendam dan jahat.

   3.        Sudut pandang

Sudut pandang adalah cara sipengarang bercerita. Sudut pandang dari novel Manusia Harimau adalah pengarang sebagai orang ketiga di luar cerita sebab pengarang atau penulis novel tidak disertakan dalam novelnya.

   4.        Latar (Setting)

Latar adalah penggambaran mengenai waktu, ruang/tempat, situasi, dan suasana yang ada dalam karya sastra tersebut. Latar tempat dari novel ini misalnya, ruang 3 kali 3 meter, ruang itu cukup terang dengan nyala satu lilin, dilantai air terjun rahasia, di ruang bacaan, di bukit selikur, di sungai selawi, di padepokan, kebukit rotan, di guha selikur, di ruang baca rahasia, di air terjun , di bukit sibungkuk, di lapangan, di padepokan Bukit Si Bungkuk, di Bukit si Tonjang, Hutan Belantara, Guha Bukit Bunga, di sepanjang jalan, di ruang kebun senjata, desa lilep, di bukit Limbumbu, di desa pakis raja, di bukit burung, di bumbungan atap rumah, desa semampir, di tepi tebing, bukit bunga dan di desa pakis raja. Latar waktu dari novel ini misalnya, disuatu waktu, di pagi hari. Latar suasana misalnya, suasana tegang pada waktu terjadi pertarungan.

   5.        Alur

Alur adalah urutan kejadian atau peristiwa yang membentuk sebuah cerita alam sebuah karya sastra. Novel ini menggunakan alur maju atau progresif karena pengarang menyajikan cerita dimulai dari awal menuju akhir cerita. Tahapan-tahapan peristiwa yang terjadi dalam novel antara lain:

  1. Pemaparan (exposition) yaitu tahap cerita tempat pengarang mulai melukiskan suatu keadaan awal cerita. Pada tahap ini pengarang mengenalkan tokoh, latar dan suasana, seperti mengenalkan siapa Aji Mlati, Ki Ca Hya dan Pungguh dan keadaan pada waktu itu belum tegang, pada awalnya Ki Ca Hya mengajari ilmu pedang Tien-Yuan kepada Aji Mlati yang dipelajari dari kitab chen koa yang artinya lapangan dan kebun.
  2. Pertikaian yakni munculnya perselisihan antar tokoh seperti Aji Mlati dan Pungguh minggat meninggalkan Ki Ca Hya menuju ke sungai Slawi yang diimpikan oleh Aji Mlati. Lalu Ki Ca Hya mengirim enam pendekar yang merupakan muridnya untuk mencari Aji Mlati dan pada akhirnya terjadi pertarungan sengit antara Pungguh dan keenam pendekar tersebut.
  3. Perumitan yaitu munculnya peristiwa yang mengawali timbulnya konflik seperti Aji Mlati dilarikan oleh salahsatu dari seratus pendekar iblis yang jahat. Tujuan dia menculik Aji Mlati karena Aji mempunyai kemampuan pedang Tien-Yuan. Lalu Aji Mlati dipengaruhi oleh sihir pendekar iblis untuk memusuhi Ki Ca Hya dan Pungguh. Hingga suatu hari terjadilah pertarungan yang sangat hebat di Bukit Bungkuk antara Aji Mlati, dan pendekar iblis itu.
  4. Klimaks, pada tahap ini konflik sudah mencapai puncaknya, misalnya KI Harwati berniat membunuh Aji Mlati, Pungguh dan Ki Ca Hya dan merebut pedang Tien-Yuan dari tangan aji Mlati dan telah mencuri pedang mawar berduri. Pedang berduri itu memberikan pengaruh kepada Aji Mlati dan Pungguh melakukan perbuatan yang jahat sehingga pada suatu hari mereka membuat ulah di Bukit Burung. Mereka dicegat oleh lima pendekar liar sehingga terjadi perkelahian. Kelima pendekar liar itu mati seketika sedangkan guru mereka yaitu Suhu Elang tidak terima mengetahuinya kelima muridnya dibunuh. Suhu elang menjadi dendam kepada Aji Mlati yang telah membunuh muridnya.
  5. Peleraian (falling action) yaitu tahapan alur yang melukiskan pemecahan masalah dari konflik yang ada. Misalnya, suhu elang berniat membunuh Aji Mlati dan akhirnya terajadi pertarungan. Pada akhirnya pedang mawar duri menebas leher suhu elang.
  6. Penyelesaian yaitu tahapan alur penyelesaian masalah yang merupakan bagian akhir cerita. Misalnya, Aji Mlati dibawa pulang oleh Pita Loka dalam keadaan pingsan kepadepokan. Setelah Aji Mlati sadar ia bertemu kembali dengan kakeknya yaitu Ki Ca Hya. Mereka merasa sangat senang dan bahagia karena dapat berkumpul kembali.

   6.        Amanat

Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembacanya. Pesan yang disampaikan dari novel Manusia Harimau adalah kita harus dapat membela kebenaran seperti yang dilakukan oleh aji Mlati yang selalu gigih melawan orang-orang jahat, jika kita diberi amanat maka kita harus melaksanakan amanat tersebut seperti yang dilakukan oleh pendekar pertama yang merupakan murid Ki Ca Hya saat ditugaskan untuk membawa pulang aji Mlati yang pada waktu itu dibawa pergi oleh Pungguh. Berbeda dengan pendekar kelima yang selalu membangkang gurunya dan tidak melaksanakan amanat, emosinya tinggi sehingga pada akhirnya dia mati dibunuh oleh Pungguh secara tidak sengaja. Amanat lain yang terkandung dalam novel ini yaitu kita tidak boleh sombong walaupun kita mempunyai ilmu yang hebat dan selalu merendah diri seperti yang dilakukan oleh Pungguh sebenarnya dia mempunyai ilmu yang sangat hebat akan tetapi ia selalu rendah hati tidak pernah memamerkan ilmunya yang hebat bahkan ia selau berpura-pura bodoh dihadapan Ki Ca Hya dan Aji Mlati.

   7.        Gaya bahasa

Gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Gaya bahasa yang digunakan dalam novel Manusia Harimau antara lain misalnya gaya bahasa perbandingan seperti majas perumpamaan/simile yaitu pedang mawar biru bagaikan kecantikan yang berbahaya bukan hanya berbahaya bagi pemegangnya tetapi berbahaya juga bagi yang melihatnya, kata bagaikan menunjukan bahwa kalimat itu menggunakan majas perumpamaan. Lalu menggunakan gaya bahasa pertentangan misalnya majas hiperbola yaitu demi nyawa lima bangkai murid-muridku yang malang, kata bangkai menunjukan bahwa kalimat itu menggunakan majas hiperbola yaitu ungkapan yang melebih-lebihkan.

Sinopsis Novel Manusia Harimau

Aji Mlati adalah seorang gadis yang berumur 12 tahun,  Pada suatu hari Aji Mlati dibawa oleh Pungguh, menghadap Ki Ca Hya. Ki Ca Hya menjelaskan kepada Aji Mlati Bahwa ia adalah cucu Ki Ca Hya dan beliau akan mewariskan ilmu ketabiban yang bernama T’cu ching yen i pen ts’ao. Pemilik kitab ini dinegerinya disebut Suhu Gunung-Gunung, sebagai pewaris kitab itu Aji Mlati akan mewarisi citra hidup di pegunungan. Ilmu ketabiban itu akan digunakan Aji Mlati untuk mengobati orang sakit. Aji Mlati di bimbing oleh Ki Ca Hya untuk mempelajari mata pelajaran Moyang T’aomu dan memperdalam bermacam soal yang ditekuni oleh neneknya Aji Mlati sebelum dibunuh. Aji Mlati dibawa ke air terjun rahasia untuk dilatih, pertama Ki Ca Hya mengajarkan mengenai ilmu pedang Tien Yuan yang dipelajari dari kitab Chen Kao yang artinya lapangan dan kebun, sebuah pedang milik seorang penyair Tiongkok yang hanya digunakan dalam keadaan terancam saja. Pedang Tien Yuan ini boleh digunakan di arena lapangan dan di kebun-kebun. Pedang ini hanya bisa dipelihara dealam diri pewarisnya yang bebakat ilmu syair. Ki Ca Hya mulai mengajarkan pernafasan berdasarkan bimbingan ilmu “kebajikan yang bestari dari Awal asal segala-gala”. Aji Mlati bukanlah gadis yang biasa, darah yang mengalir di tubuhnya bukan sembarangan dan harus dipelihara secara tidak sembarangan pula. Sehingga setelah Ki Ca Hya mengajari Aji Mlati berbagai ilmu, maka Pungguh diperintah untuk menertibkan ilmu Aji Mlati. Pungguh pun mulai melatih Aji Mlati dengan cara berpura-pura menonton Aji Mlati yang sedang memahirkan gerak permainan Pedang Tien-Yuan. Lalu Pungguh mangajari aji Mlati pertama Burung Pujangga, Aji berkonsentrasi dengan pedangnya lalu mulai bersyair dengan suara yang merdu dan semakin cepat Aji Mlati mempermainkan pedangnya dengan sebelah kaki untuk memindahkan gerak menangkis. Lalu Pungguh melatih jurus sepuluh bayangan pedang, jurus ini membuat tampaknya pedang itu menjadi sepuluh buah sehingga musuh bingung yang mana pedang dan yang mana bayang.

Ramalan pendekar bijak bestari biasanya jarang meleset, Aji Mlati dan Pungguh minggat meninggalkan Ki Ca Hya, mereka menuju ke sungai Selawi yang diimpikan oleh Aji Mlati. Dia bermimpi harus mengikuti arus sungai Selawi. Jika berenang nanti Aji Melati akan mendengar suara halus yang memberitahukannya. Lalu Aji Melati mempersiapkan diri untuk mencebur tapi Pungguh mencegah karena dia tidak bisa berenang, tetapi aji Melati pun tetap mencebur ke sungai Selawi. Pungguh hanya berlari di tepi sungai saja. Sementara Ki Ca Hya di padepokannya tidak berdiam diri, kepergian Aji Mlati dan Pungguh bukan untuk dilepas begitu saja. Dia masuk ke tempat latihan, enam muridnya yang sudah dia gembleng dengan baik dan dikumpulkan untuk menculik kembali Aji Mlati. Keenam pendekar tersebut akan di beri ilmu gerak belalang cangcorang. Setelah di latih secara keras keenam pendekar itu diperintah untuk berangkat melaksanakan tugas. Ki Ca Hyo memberikan pesan kepada keenam pendekar agar tidak tergoda oleh setan. Perjalanan mereka ketika fajar itu sungguh meruopakan perjalanan yang penuh rasa kepahlawanan dan memiku amanat. Bukan sekali dua kali apabila mereka melewati desa, mereka digoda oleh pendekar-pendekar tanggung yang hampir menimbulkan perkelahian. Ketika mereka dijamu minuman disebuah desa kecil yang tak mereka kenal tiga lelaki muda memancing perkelahian. Pendekar pertama kelihatan berusaha sabar, sedangkan pendekar kelima tidak dapat menahan emosinya dan secara tidak sengaja membuat penyerangan hingga terjatuh dan pingsan. Keenam pendekar itu melarikan diri dari desa itu. Merekah melangkah terus menembus siang dan malam sampai ketika suatu kali mereka terbangun ditengah hutan dan menemukan sebuah air terjun. Lalu mereka bersama-sama berlari bagai belalang Cangcorang menuruni bukit itu dan didepan air terjun yang dasyat itu mereka berhenti. Salah satu pendekar keenam bertanya apakah mereka diijinkan mandi, tetapi pendekar pertama melarangnya karena tujuan utamanya hanya merebut Aji Mlati kembali bukan bertamasya, sedangkan pendekar kelima agak emosi lalu ia terjun. Hal ini menunjukan bahwa pendekar kelima telah membangkang perintah Ki Ca Hya, disaat pendekar kelima sedang keenakan mandi di air terjun tiba-tiba terdengar seorang berseru sehingga pendekar-pendekar tersebut mengetahui persembunyian Si Pungguh dan Aji Mlati. Pendekar pertama mempunyai siasat untuk merebut kembali Aji Mlati yaitu lewat tengah malam pendekar pertama akan memanggil Pungguh jika dia keluar maka akan diajak berunding, lalu pendekar yang lain masuk kegua menculik Aji Mlati sesuai dengan ajaran Ki Ca Hya yaitu dengan tujuh macam mantra sebelum memegangnya dan ingat jangan sampai cucu Ki Ca Hya dilukai. Tetapi tidak disetujui oleh pendekar-pendekar yang lain termasuk pendekar kelima yang ngotot menentang pendapat pendekar pertama karena dianggap membuang-buang waktu. Maka kelima pendekar-pendekar itu menuju air terjun dan merangkak masuk ke guha dari balik air terjun itu. Beberapa saat kemudian pendekar-pendekar itu masuk dibalik air terjun itu, mendadak saja pendekar pertama terdongak kaget ditepi sungai. Dia kaget karena satu demi satu anak buahnya terlempar melintasi air terjun itu. Ini semua adalah ulah Pungguh yang salah terjang karena melukai dan membunuh teman-temannya itu. Tangkisan kipas kapak bangau yang menyebabkan kelima pendekar terlempar adalah karena yang nongol pertama itulah yang akan menyerang Pungguh dengan jurus maut tanpa ampun, Pungguh hanya membela diri. Setelah upacara penguburan kelima pendekar tersebut barulah Pungguh memberi keterangan mengenai Aji Melati. Ternyata Aji Mlati sudah tidak dalam gua di balik air terjun itu. Aji Melati dilarikan oleh salah seorang dari seratus pendekar iblis. Proses penculikan itu sendiri tidak diketahui oleh Si Pungguh. Aji Melati diculik karena dia mempunyai keampuhan dalam memainkan pedang Tien-Yuan yang sudah lama dirindukan oleh seorang dari seratus pendekar iblis namanya yaitu pendekar ke-33 dan pendekar Tonjang iblis 66. Setelah Aji Mlati diculik ia dia di pengaruhi oleh sihir pendekar iblis untuk memusuhi Ki Ca Hya dan Pungguh. Hingga pada suatu hari terjadilah peperangan di Bukit Si Bungkuk yang sangat hebat antara Pungguh, Aji Mlati, pendekar 33, dan pendekar Tonjang Iblis 66. Dan akhirnya pendekar 33 dan pendekar Tonjang Iblis 66 pun terbunuh sehingga Aji Mlati berangsur-angsur mulai sadar dan arus aliran iblis itu mulai lolos dari aliran darah Aji Mlati. Keadaan santai yang dialami Aji Mlati, Pungguh dan pendekar lainnya itu berbeda dengan yang sedang dialami oleh Ki Harwati. Ia sedang bertapa dalam keadaan kesurupan lalu terdengar wisik bahwa ia harus merebut pedang Tien-Yuan dari tangan Aji Mlati, lalu membunuh dia dan kawan-kawannya. Harwati loncat dari guha Bukit Bunga lalu menyerbu Aji Mlati dengan jurus selang semaruk birahi, menggeleparkan tubuh Aji Mlati dan mencoba merebut pedangnya tetapi aji Mlati sempat berkelit meloncat dengan jurus bangau. Sehingga dua gebrakan tangan Aji Mlati mengenai kepala herwati sampai sempoyongan. Hermawati pun menyerah kepada aji Mlati dan ingin berguru padanya. Aji Mlati pun percaya saja pada Herwati tanpa diduga tiba-tiba Harwati merampas pedang dari tangan Aji Mlati. Dengan cepat dia sudah meloncat kepohon dan dahan, Aji Mlati dan Pungguh keheranan barulah sadar bahwa pedang sudah dirampas dan dilarikan oleh Harwati.

KI Ca Hya sedang duduk bersila di depan air terjun rahasia, beliau sedang tafakur bertapa dan tiba-tiba Harwati langsung menyerang Ki Ca Hya pun langsung menangkis serangan dengan pedang sakti Tien Yuan itu. Serangannya memang sangat dasyat tetapi pedang sakti itu jungkir bali tak karuan sehingga ia seperti mabok sebab tidak semua pedang dapat melukai Ki Ca Hya kecuali pedang ratu kelabang menurut babad nenek moyang persilatan. Sedangkan pedang Tien-Yuan yang digunakan oleh harwati merupakan pedang yang sesuai trah Ki Ca Hya yang telah mewariskannya kepada Aji Mlati yaitu keturunannya sehingga hanya Aji lah yang berhak memegang dan menggunakannya. Harwati pun menyerah, Ki Ca Hya mengira dia adalah putri Ki Karat yaitu sedulur Ki Ca Hya dalam ilmu persilatan sehingga beliau ingin mendidik dan mengajari ilmu kepada keturunan Ki Karat. Saat Ki Ca Hya sedang bersemedi dihadapan air terjun ia menjadi kacau, timbul kebingungan dan keraguan bahwa puteri Ki Karat, sedulur silatnya kan melakukan khianat. Maka ditinggalkannya air terjun rahasia itu lalu dia naik keatas dan tiba diruang kebun senjata. Mulanya dilihatnya semua senjata itu tak kurang satu pun tetapi setelah beliau akan pergi meninggalkan ruang itu mendadak ia ingat ada satu pedang yang tidak ada yaitu pedang sakti mawar barduri. Sikapnya menjadi gelisah, ketika itu terbayang oleh Ki Ca Hya sebuah prahara berkepanjangan akan menimpa kawasan seratus bukit. Benarlah firasat itu dan desa lilep menjadi korbannya yang pertama. Dalam perjalanan melintasi sebelas bukit aji Mlati, Si Pungguh dan Harwati mengalami kelaparan hebat. Ki Harwati pun menyuruh Aji Mlati dan Pungguh untuk merampok desa itu karena terpengaruh oleh pedang sakti mawar duri. Pungguh menghajar salah satu penduduk desa itu yang bernama Rai Tamsil namun anehnya Rai tamsil yang tidak bisa silat mampu menghibas dengan gerak kupu-kupu mengenai mata pungguh. Bahkan setelah kena hajar Pungguh Rai tamsil mampu memainkan silat bangau dengan jurus-jurus jitu yang dimiliki oleh Pungguh. Setelah terjadi pertarungan dasyat itu Aji Mlati, Pungguh dan Harwati melarikan diri karena dikejar rasa takut sebab muncul bencana serangan lebah yang menyerbu dan dapat dianggap sebagai pertanda bahaya. Dan penduduk desa lilep panik mendadak tercengang sewaktu lebah-lebah yang jumlahnya ribuan mendadak lenyap. Ketika itu turun seorang wanita dari kuda, dia adalah Pita Loka. Ia menanyakan kepada pak Bokoh (pemilik warung) apa yang terjadi didesa ini, pak Bokoh pun langsung menceritakan bahwa ada tiga perampok yang terdiri dari satu anak perempuan remaja, satu wanita berwajah bengis dan satu orang laki-laki yaitu aji Mlati, Harwati dan Pungguh. Setiap pukulan yang dihantamkan oleh Aji dan Pungguh yang diperintah oleh Harwati itu selalu menulari ilmu persilatan pada penduduk desa itu yang merupakan orang awam dalam ilmu silat. Tetapi setelah mereka pergi, penduduk desa itu tidak pandai bersilat lagi. Setelah mendapat informasi seprti itu Pita Loka meninggalkan desa lilep.

Di bukit Libumbu tiga pendekar itu dicegat oleh Ki Tunggal Pengkar yang kakinya terkenal buas. Dia ingin merebut pedang mawar berduri, maka terjadilah pertarungan antara Aji Mlati, Pungguh dan ki tunggal pengkor untuk memperebutkan pedang mawar berduri sesuai dengan kitab kebun senjata tetapi KI Tunggal Pengkor kalah dan mati seketika. Ki Pita loka memang datang terlambat, penduduk desa Bukit Limbubu masih diliputi shock kegentaran. Tanpa ditanya-tanya lagi pendduduk mengisahkan batapa serunya pertarungan antara Ki Tunggal Pengkar dengan pendekar perawan. Tapi tentu saja meraka tidak menceritakan pada Ki Pita Loka, dalang dibalik pertarungan ini adalah Ki Harwati. Aji Mlati, Pungguh dan KI Harwati sudah memasuki bukit burung, bukit ini sarang dari para pendekar liar yang ilmunya kacau balau. Aji Mlati berjalan di depan lalu disusul oleh Pungguh kamudia baru menyusul Ki Harwati dengan pedang saktinya. Mereka dicegat oleh lima pendekar liar maka terjadilah pertarungan hebat diantara mereka kelima pendekar itu terkena pedang sakti itu di bahu mereka masing-masing. Darah muncrat para pendekar liar itu dalam keadaan sekarat. Sekaratnya lima pendekar ini memancing ingin tahunya seorang kakek tua yaitu Suhu Elang. Suhu elang ini menjadi dendam kepada aji Melati yang telah membunuh kelima muridnya. Suhu Elang berniat untuk membunuh Aji Mlati, mereka berdua bertarung dan pada akhirnya aji Mlati mengayunkan pedang mawar duri menyabet bahu pendekar elang itu, karena banyak keringat sehingga mata pedang itu melesat menebas leher suhu elang. Kepala suhu elang lepas dari lehernya bergelinding secara mengerikan bersama tubuhnya yang jatuh. Aji Mlati masih tercengang mengapa dirinya bisa menang. Yang jelas dia pusing lalu mual dan muntah. Dia kaget karena dia yang memenangkan pertarungan itu. Akibatnya dia pingsan dan jatuh dari bubung atap kebumi. Dalam keadaan masih belum sadar tubuh Aji Mlati diangkat Ki Pita Loka, lalu ditaruhkan dipunggung kudanya. Lalu Aji Mlati diikat dengan tali sisal nenas, kemudian pedang mawar berduri itu dilesatkan Pita Loka ke angkasa. Bagai bola cahaya pedang itu terbang dan meghilang diangkasa. Begitu pula kuda yang membawa Aji Mlati kembali kepadepokan Ki Ca Hya. Ki Ca Hya melihat ada tubuh terikat dipunggung kuda itu adalah cucunya. Tidak lama kemudian Aji Mlati mulai sadar Ki Ca Hya kegirangan dan mengajak Aji Mlati membaca kitab kebun senjata di ruang perpustakaan beliau. Konon menurut kisah orang tua, aji Mlati lebih banyak belajar di bawah tanah di depan air terjun rahasia tanpa bertemu manusia.

 DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Deri. 2011. Sastra Indonesia. Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta.

Busye, Motinggo. 1987. Manusia Harimau (Aji Mlati). Jakarta: Lokaja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s